Semakin Banyak Saya Belajar, Semakin Saya Sadar Betapa Sedikit yang Saya Tahu

Kadang saya bertanya-tanya, adakah orang yang benar-benar memahami segala hal tentang mobil?

Mobil itu luar biasa rumit.

Memahami bahan-bahan pembuatnya saja sudah merupakan tantangan besar. Lalu bahan-bahan itu diolah menjadi berbagai komponen, dan komponen-komponen tersebut dirangkai menjadi sebuah mobil utuh. Membayangkan harus memahami semua mekanisme yang bekerja pada mobil yang sudah jadi pun sudah membuat kepala pening.

Umur manusia memang terlalu singkat.

Kita sering mendengar orang berkata,

“Sejak mulai mengemudi di sirkuit, saya tidak lagi ngebut di jalan umum.”

Menurut saya, itu karena mereka merasakan sendiri betapa sulitnya mengendalikan mobil.

Kalau terus berlatih dengan sungguh-sungguh di sirkuit, kemampuan mengemudi pasti meningkat.

Namun, banyak orang justru makin enggan melaju kencang di jalan umum. Mereka mulai menyadari bahwa jalan umum juga punya banyak bahaya.

Itu karena mereka semakin memahami dengan jelas sampai di mana batas kemampuan mereka mengendalikan mobil.

Semakin banyak yang kita pelajari, semakin kita sadar akan keterbatasan diri sendiri.

Menurut saya, hal yang sama berlaku untuk pengetahuan.

Mobil itu sulit dipahami.

Tidak diragukan lagi.

Tapi di sisi lain, saya cukup sering mendapati bahwa masing-masing mekanismenya ternyata tidak sesulit yang semula saya bayangkan.

Tentu saja, ada hal-hal yang memang benar-benar sulit dipahami.

Namun, banyak juga yang bisa kita pahami kalau kita mempelajari dasar-dasar yang diperlukan, mendapat penjelasan yang baik, dan mau berusaha mempelajarinya.

Dan begitu akhirnya paham, kita sering malah berpikir,

“Oh… ternyata jauh lebih sederhana daripada yang saya kira.”

Momen seperti itu mungkin lebih sering kita alami daripada yang kita kira.

Masalahnya, jumlah hal yang harus dipahami itu begitu banyak.

Terlalu banyak.

Untuk memahami suatu fenomena, mungkin kita membutuhkan pengetahuan yang sudah kita pelajari sejak SD.

Atau mungkin kita perlu memahami fisika tingkat SMA seperti yang diujikan dalam ujian masuk universitas.

Belum lama ini, saat mencari tahu tentang pegas, saya sampai harus berurusan dengan fisika semacam itu.

“Tunggu… ini dianggap pengetahuan dasar?”

Saya masih ingat bagaimana saya cuma bisa memandangi soal-soal itu, sadar bahwa saya tidak bisa mengerjakannya.

Kalau ada satu hal yang tidak kita pahami, kita harus mempelajari dasar-dasar yang melandasinya.

Lalu kita sadar bahwa dasar-dasar itu pun belum kita pahami, jadi kita harus kembali mempelajari hal-hal yang lebih mendasar lagi.

Baru dengan mengulang proses itu, sedikit demi sedikit kita mulai mengerti.

Dalam bidang tertentu, ada anak SMA yang pengetahuannya jauh melebihi saya.

Tapi ya, memang begitulah kenyataannya.

Masih terlalu banyak hal yang belum saya pahami.

Masih terlalu banyak pengetahuan yang perlu saya pelajari.

Padahal, untuk mempelajari semua itu, waktu yang kita miliki terlalu singkat.

Mungkin justru itulah yang membuatnya begitu menarik.

Saat menjelajahi internet, saya sering menemukan tulisan yang seolah-olah begitu yakin akan segala hal.

Sementara itu, pembalap profesional justru berkata,

“Saya masih harus banyak belajar.”

Ada juga orang yang berhenti ngebut di jalan umum setelah mencoba mengemudi di sirkuit.

Semakin banyak yang kita pelajari, semakin jelas pula apa yang belum kita ketahui—dan di mana batas kemampuan kita sendiri.

Saya semakin merasa bahwa saat kita belajar memahami sesuatu, kita juga mulai menyadari apa saja yang belum kita pahami.

Dulu, ketika masih muda, saya tidak menyadari hal itu.

Waktu itu, saya benar-benar tidak mengerti apa-apa.

Sekarang pun bukan berarti saya sudah banyak mengerti…

Semakin saya menyadari apa saja yang belum saya pahami, semakin jelas pula gambaran besarnya, yang dulu hanya tampak samar.

Sejak itu, cara saya memandang diri sendiri sedikit berubah.